HAL-HAL YANG MENGHALANGI PENGENALAN TERHADAP ALLAH



Praymuslim.blogspot.com --Ada beberapa hal yang menghalangi seseorang mengenal Allah, diantaranya :
 
1. Bersandar kepada panca indra
Firman Allah:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamusebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar,sedang kamu menyaksikannya. (QS. 2:55)
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu, mereka berkata:"Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka)
dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (QS. 4:153)
 
2. Mereka tidak beriman kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat Allah.
Padahal banyak sesuatu yang tidak bisa mereka lihat tapi rnereka meyakini akan keberadaannya, seperti: gaya gravitasi bumi, arus listrik, akal pikiran dsb.
 
3. Kesombongan
Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak berfirman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. 7:146)
 
4. Lengah
Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS. 21:1) Tidak datang kepada mereka suatu ayat al-Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (QS.
21:2) 
(lagi)hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya" (QS.21:3)

5. Bodoh
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:188)
 
6. Ragu-ragu
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka datang sesuatu mu'jizat, pastilah mereka beriman kepada- Nya. Katakanlah:"Sesungguhnya mu'jizat-mu'jizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mu'jizat datang mereka tidak akan beriman. (QS. 6:109) 
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan
mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS. 6:110)

7. Taqlid
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuki (QS. 5:104)
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berata:"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS. 43:23)

KEWAJIBAN MUSLIM KEPADA ALLAH SWT



1. Mengerjakan rukun Islam yang lima
    a. Mengucapkan Syhadat
    b. Mengerjakan Sholat
    c. Melaksanakan Puasa
    d. Melaksanakan Zakat
    e. Pergi Haji Ke baitullah

2. Menerima ketentuan Allah dengan Ridha
Baik ketentuan yang bersifat kauni (Qadha& Qadar) (2:156) atau ketentuan hukum / undang-undang (4:65)

3. Ikhlas
Firman Allah:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:5) Ayat lainnya: QS. 39:2-3.

4. Sabar
Firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. 3:200)

5. Selalu merasakan bahwa Allah mengawasinya (Muraqabatullah)
Firman Allah:
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada- Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. 2:235) Ayat lainnya: QS. 33:52; 50:18

6. Mencintai Allah dan Rasul-Nya
Firman Allah:
Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)
 
7. Waro’
Yang dimaksud wara’ menurut Sahal bin AbduLlah adalah meninggalkan hal-hal yang tidak pasti (Syubhat), yaitu hal-hal yang tidak berfaedah. Sedangkan menurut As-Syibli, wara’ merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT.

8. Mengharapkan rahmat-Nya (Roja’)
Firman Allah:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:218)

9. Tawakal
Firman Allah:
Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri" (QS. 14:12)

10. Percaya (yakin) akan pertolongan Allah
Firman Allah:
Musa menjawab:"Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. 26:62)

11. Selalu menyertakan niat jihad dalam segala aktivitas perbuatan
Sabda Rasulullah SAW:
“Tidak ada hijrah setelah pembebasan Mekah tetapi niat dan jihad”

12. Selalu memperbaharui taubat dan istighfar
Firman Allah:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

13. Mempersiapkan diri untuk hari akhirat dan selalu mengingat mati (QS.3:185)
Firman Allah :
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan

14. Selalu menginstropeksi diri
Umar RA berkata: “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab” mi adalah pengikut jejak-jejak mereka." (QS. 43:23)

Mampu Jelaskan dengan Bahasa Sederhana Itulah Kelebihan Kiai NU

Oleh: M Mas'ud Adnan

Praymuslim - Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari memberikan tashawur (gambaran) tentang Aswaja secara gamblang dan gampang dimengerti. Seperti ditegaskan dalam al-qanun al-asasi, bahwa paham Aswaja versi Nahdlatul Ulama’: secara teologis mengikuti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, secara fiqih mengikuti salah satu empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), dan secara sufistik (tashawuf) mengikuti Imam al-Ghazali atau Imam Junaid al-Baghdadi.

Menurut Zainul Hakim, penjelasan aswaja Mbah Hasyim ini jangan dilihat dari pandangan ta’rif menurut ilmu Manthiq yang harus jami’ wa mani’ tapi harus dipahami sebagai gambaran yang lebih simple dan mudah dipahami masyarakat. Karena secara definitif ahlussunnah waljamaah para ulama berbeda secara redaksional tapi muaranya sama yaitu maa ana alaihi wa ashabii (Baca: KH. Hasyim Asy’ari, Al-Qanun Al-Asasi; Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,terjemah oleh Zainul Hakim, Jember: Darus Sholah, 2006).

Jadi Mbah Hasyim memberi tashawur seperti itu karena memahami bahwa umat Islam yang diayomi adalah warga NU yang secara intelektual dan ekonomi waktu itu merupakan kelas menengah ke bawah. Artinya, Mbah Hasyim Hasyim memberi tashawur Aswaja kepada jamaah NU saat itu biqadri uqulihim (sesuai kemampuan akal mereka).

Kita tentunya masih ingat ketika KH A Wahid Hasyim menyatakan bahwa untuk mencari intelektual di kalangan NU sama sulitnya dengan mencari penjual es lilin pada tengah malam. Saat itu belum ada kulkas dan produk es batu seperti sekarang yang mudah ditemui di sembarang tempat (baca tulisan M Mas’ud Adnan dalam Sunan Gus Dur Akrobat Politik ala Nabi Khidir) .

Memang salah satu kelebihan ulama Aswaja adalah kemampuannya memberi pemahaman ilmu agama atau menjelaskan masalah sosial yang pelik kepada masyarakat awam dengan bahasa yang mudah dicerna. Ini mengingatkan kia pada doktrin jurnalistik yang diberikan wartawan kawakan, Rosihan Anwar. Menurut Rosihan, seorang wartawan ketika menulis berita harus membayangkan bahwa pembaca surat kabar itu adalah berpendidikan SMP, meski mereka bergelar doktor dan professor. Artinya, dalam menyampaikan pesan atau informasi harus memakai bahasa yang mudah dicerna. Karena itu, kata Dr KH Said Aqiel Siradj, para ulama Aswaja, memiliki bahasa komunikasi yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat di tingkat bawah.

"Banyak para intelektual berbicara tentang rakyat kecil dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh rakyat kecil. Sehingga, pembicaraan mereka tidak pernah didengarkan oleh rakyat kecil," terang Kiai Said.
Dalam pandangan KH. Said Aqiel Siraj, paham ahlusunah waljamaah pada dasarnya menganut lima prinsip. Yakni, at-Tawazun (keseimbangan), at-Tatsamuh (toleran), at-Tawasuth (moderat), at-Ta'adul (adil dan patuh pada hukum), dan amar makruf nahi mungkar.

Dalam masalah sikap toleran pernah dicontohkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asy'ari saat muncul perdebatan tentang perlunya negara Islam atau tidak di Indonesia. Mbah Hasyim mengatakan, selama umat Islam diakui keberadaan dan peribadatannya, negara Islam atau bukan, tidak menjadi soal. Sebab, negara Islam bukan persoalan final dan masih menjadi perdebatan. (Marwan Jakfar,2010)

Bertolak dari pandangan Mbah Hasyim dan Kiai Said Aqiel ini jelas sekali bahwa paham Aswaja sebagai manhaj al-fikr (metode berfikir) memiliki watak inklusif dan fleksibel sesuai dengan perkembangan jaman modern. Prinsip-prinsip modernitas, baik dalam politik maupun sosial dan budaya hampir semua tercakup dalam konsep Aswaja. Bahkan doktrin aswaja sebagai manhaj mempunyai nilai substansi yang universal dan mondial. Dalam kontek Ta’adul misalnya, Allah SWT mengingatkan bahwa dalam menegakkan keadilan itu kita tidak boleh didasari sikap subyektif. Artinya, walaupun kita benci kepada suatu kaum, tapi kebencian itu tak boleh mempengaruhi sikap kita dalam mengadili suatu perkara.

Kita simak firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS al-Maidah: 8). 


Sumber : http://www.bangsaonline.com

HAJI PENGABDI SETAN



Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Praymuslim - Jamaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air, bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan). Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali.Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan.

Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan alik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.

Hilfa Group Feat Mahabbatain (Album Cahaya Petunjuk)


Untuk Album Sholawat yang Terbaru 2014 dan kami tampilkan adalah  Album Cahaya Petunjuk - Al Hilfa feat Al Mahabbatain, Semoga Harapanku agar senantiasa mendapatkan HIDAYAH

Album ini berciri khas sholawat modern dengan artis - artis Ukhti Farah dina, Artis Kecil Nawal dan H. Achmad Yani (Al Mahabbatain).

Berikut Link Download..


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Do'a Muslim Lengkap - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger